JakartaVibes.com – Faculty of Life Sciences and Technology (FLST) Swiss German University (SGU) sukses menyelenggarakan DY/DX 2.0.
Program pembelajaran intensif selama tiga hari ini dirancang untuk mengenalkan siswa SMA dari berbagai daerah di Indonesia pada dunia riset ilmiah, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan praktik keberlanjutan (sustainability).
Penyelenggaraan DY/DX 2.0 ini mencerminkan komitmen FLST SGU dalam menghadirkan pendidikan berbasis pengalaman (experiential learning).
Rangkaian programnya mengintegrasikan riset, teknologi, dan keberlanjutan ke dalam satu kesatuan pembelajaran.
Selama tiga hari, puluhan peserta mendapatkan pengalaman belajar yang komprehensif. Mereka mengikuti kombinasi sesi presentasi, lokakarya (workshop) interaktif, praktik laboratorium, hingga kegiatan lapangan.
Program ini dimulai dengan pembekalan materi yang dibawakan oleh para dosen dan akademisi SGU, meliputi:
- Penyusunan pernyataan masalah (problem statement)
- Metodologi penelitian (research methodology)
- Analisis data (data analysis)
- Penulisan ilmiah (scientific writing)
Tidak hanya teori, para peserta juga langsung terjun dalam berbagai lokakarya aplikatif yang memanfaatkan teknologi modern, seperti:
- Pembuatan biodiesel.
- Bobalogy.
- Pemanfaatan AI untuk penghitungan sel (cell counting).
Sebagai penutup, peserta mengikuti kegiatan Amazing Earth Race – Zero Waste Hero di kawasan Ancol. Melalui aktivitas kolaboratif yang edukatif ini, mereka diajak memahami pentingnya pengelolaan sampah dan kepedulian terhadap lingkungan.
Setelah aksi lapangan tersebut, seluruh peserta kembali ke kampus SGU untuk mengikuti acara penutupan dan menerima sertifikat apresiasi.
Dekan FLST SGU, Assoc. Prof. Dr. Hery Sutanto, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa DY/DX 2.0 didesain agar berbeda dari pembelajaran konvensional di ruang kelas.
Peserta diajak memahami proses penelitian sejak tahap awal hingga menghasilkan solusi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Melalui DY/DX 2.0, kami ingin mengenalkan kepada para siswa bahwa riset bukan sekadar teori di dalam buku, melainkan sebuah proses untuk menemukan solusi atas berbagai tantangan nyata,” ujar Hery.
“Oleh karena itu, kami menggabungkan pembelajaran metodologi penelitian, pemanfaatan AI, hingga isu keberlanjutan agar peserta memperoleh gambaran utuh mengenai penerapan ilmu pengetahuan demi menciptakan inovasi yang bermanfaat.” lanjutnya.
Melalui program ini, SGU tidak hanya mengenalkan konsep ilmiah, tetapi juga mendorong peserta untuk berpikir kritis, memecahkan masalah secara sistematis, serta melihat keterkaitan antara inovasi teknologi dan tantangan sosial.
Senada dengan hal tersebut, Rektor Swiss German University, Assoc. Prof. Dr. Dipl.-Ing. Samuel P. Kusumocahyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen universitas untuk mempersiapkan generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan iptek.
“Di Swiss German University, kami percaya bahwa pembelajaran terbaik lahir dari pengalaman langsung. Melalui DY/DX 2.0, para siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengalami sendiri proses penelitian, pemanfaatan AI untuk sains, serta bagaimana inovasi harus berjalan beriringan dengan kepedulian lingkungan. Kami berharap pengalaman ini menginspirasi mereka untuk menjadi generasi yang kritis, inovatif, dan siap memberikan solusi bagi tantangan masa depan,” kata Samuel.
Melalui berbagai program pengayaan seperti DY/DX, Swiss German University terus membuka kesempatan bagi generasi muda Indonesia untuk mengeksplorasi potensi di bidang sains dan teknologi.
Dengan menghadirkan pengalaman belajar yang relevan serta aplikatif, SGU berkomitmen mencetak calon pemimpin masa depan yang mampu berkontribusi nyata bagi bangsa dan dunia. (*)









