Jakarta — Perdebatan mengenai siapa yang lebih “cerdas” antara Apple dan Xiaomi di pasar smartphone Indonesia pada 2025–2026 terus mengemuka. Namun, jawaban atas pertanyaan tersebut sangat bergantung pada bagaimana kecerdasan didefinisikan—apakah dari sisi fitur kecerdasan buatan (AI) dan performa teknis, atau dari ekosistem, pengalaman pengguna, dan nilai prestise.
Berdasarkan data dan tren pasar terkini, kedua raksasa teknologi ini menempuh pendekatan yang berbeda dalam menawarkan kecerdasan pada perangkat mereka.
Xiaomi: Agresif di AI, Spesifikasi, dan Harga
Xiaomi tampil menonjol melalui lini flagship terbarunya, seperti seri Xiaomi 15 dan 17, dengan menitikberatkan pada kecerdasan teknis dan produktivitas. Perusahaan asal Tiongkok ini dinilai unggul dalam menghadirkan fitur AI yang lebih cepat diadopsi, termasuk kemampuan pengolahan gambar dan editing objek kompleks yang kompetitif di kelasnya.
Dari sisi performa, Xiaomi juga memimpin dalam kecepatan pengisian daya, dengan teknologi hingga 90 watt, jauh di atas iPhone yang masih berada di kisaran 20 watt. Kapasitas baterai yang lebih besar turut menjadi nilai tambah bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.
Di sektor kamera, kolaborasi Xiaomi dengan Leica menghasilkan karakter foto yang khas dan bernuansa profesional, terutama pada lensa telefoto. Selain itu, Xiaomi dikenal cepat mengadopsi inovasi seperti refresh rate layar tinggi dan desain bezel yang semakin tipis.
Popularitas Xiaomi tercermin dari dominasinya di beberapa kuartal pasar smartphone Indonesia sepanjang 2025, menunjukkan daya tarik kuat di segmen menengah hingga flagship value.
Apple: Kuat di Ekosistem, UX, dan Nilai Jangka Panjang
Sementara itu, Apple tetap konsisten dengan pendekatan kecerdasan berbasis pengalaman pengguna (user experience) dan integrasi ekosistem. Melalui peluncuran iPhone 16 dan iPhone 17, Apple memperkenalkan Apple Intelligence, sistem AI yang dirancang terintegrasi secara seamless dengan iOS dan layanan Apple lainnya.
Keunggulan utama Apple terletak pada ekosistem perangkat yang solid. Sinkronisasi antar iPhone, MacBook, iPad, dan Apple Watch masih dinilai sebagai yang paling stabil dan intuitif di industri.
Dalam hal kamera, iPhone tetap menjadi rujukan untuk kualitas video, terutama pada stabilisasi, konsistensi warna, dan akurasi hasil rekam. Ditambah dengan fitur keamanan seperti Face ID, Apple mempertahankan citra sebagai perangkat premium yang aman dan andal.
Di pasar Indonesia, iPhone juga unggul dari sisi nilai jual kembali, yang relatif lebih stabil dibandingkan sebagian besar merek Android, termasuk Xiaomi.
Siapa Lebih “Cerdas”?
Pada akhirnya, pilihan antara Apple dan Xiaomi di Indonesia pada 2025–2026 kembali pada kebutuhan pengguna. Xiaomi cocok bagi konsumen yang menginginkan spesifikasi tinggi, fitur AI agresif, kamera dengan karakter artistik, serta teknologi pengisian daya cepat dengan harga yang lebih rasional.
Sementara Apple tetap menjadi pilihan bagi pengguna yang mengutamakan kenyamanan jangka panjang, kehalusan sistem operasi, kualitas video terbaik, serta prestise dan kekuatan ekosistem.
Alih-alih soal siapa yang paling cerdas, persaingan Apple dan Xiaomi menunjukkan bahwa kecerdasan kini hadir dalam berbagai bentuk—baik melalui inovasi teknologi maupun pengalaman pengguna yang menyeluruh.






