Waktu Terbaik Hubungan Intim Suami Istri Saat Ramadan Menurut Islam dan Penjelasan Medis

Foto: waktu terbaik hubungan intim suami istri saat Ramadan menurut ulama serta penjelasan kesehatan dan penelitian ilmiah. (Istimewa)

JakartaVibes.com, Jakarta – Bulan Ramadan merupakan waktu bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah melalui puasa, salat, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa.

Selama menjalankan ibadah puasa, umat Islam diwajibkan menahan diri dari berbagai hal yang dapat membatalkan puasa, termasuk hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Namun, setelah waktu berbuka puasa tiba, larangan tersebut berubah menjadi kebolehan.

Pasangan suami istri diperbolehkan melakukan hubungan intim pada malam hari hingga sebelum fajar menyingsing.

Dalam kehidupan rumah tangga, hubungan suami istri merupakan bagian dari kebutuhan biologis sekaligus sarana menjaga keharmonisan keluarga.

Karena itu, selama Ramadan aktivitas tersebut tetap diperbolehkan selama dilakukan pada waktu yang tepat dan tidak mengganggu rangkaian ibadah.

Islam Mengatur Waktu Hubungan Suami Istri Saat Ramadan

Mengutip NU Online, Islam memberikan tuntunan agar hubungan intim dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi fisik pasangan, terutama setelah menjalani puasa seharian.

Setelah berbuka, tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan energi melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Proses pemulihan ini penting sebelum melakukan aktivitas fisik, termasuk hubungan suami istri.

Pakar Thibbun Nabawi, Al-Hafiz Adz-Dzahabi, dalam kitabnya menjelaskan bahwa hubungan badan sebaiknya dilakukan ketika kondisi tubuh berada dalam keadaan stabil.

“Hubungan badan merupakan sunnah para rasul. Sebaiknya aktivitas ini dilakukan setelah pencernaan selesai mencerna makanan, saat suhu tubuh pasangan dalam kondisi stabil, saat perut tidak terlalu kosong dan tidak juga penuh. Namun apabila diperlukan, maka hubungan badan di saat perut terisi dapat dikatakan lebih kecil bahayanya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau pernah berbuka puasa dengan berhubungan badan,” tulis Al-Hafiz Adz-Dzahabi dalam kitab Thibbun Nabawi.

Baca Juga: Tips dan Amalan Terbaik Meraih Berkah Malam Lailatul Qadar

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa waktu yang lebih dianjurkan untuk melakukan hubungan intim adalah setelah tubuh memperoleh kembali energi dari makanan yang dikonsumsi saat berbuka dan setelah proses pencernaan berlangsung.

Kondisi Tubuh Setelah Puasa Perlu Diperhatikan

Selama menjalani puasa seharian, tubuh mengalami penurunan energi karena tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman dalam waktu yang cukup lama.

Oleh karena itu, melakukan aktivitas fisik berat saat tubuh masih dalam kondisi lemah dapat menyebabkan kelelahan.

Hubungan intim yang dilakukan ketika perut masih kosong juga berpotensi menguras energi yang belum sepenuhnya pulih.

Karena itu, sebagian ulama menyarankan agar pasangan menunggu beberapa waktu setelah berbuka sebelum melakukan aktivitas tersebut.

Selain lebih aman dari sisi kesehatan, kondisi tubuh yang sudah stabil juga dapat membuat pasangan merasa lebih nyaman.

Penelitian Menunjukkan Puasa Bisa Memengaruhi Libido

Sejumlah penelitian juga menyoroti pengaruh puasa Ramadan terhadap kondisi biologis, khususnya pada laki-laki.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Talib dan timnya pada 2015 menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat berkaitan dengan penurunan dorongan seksual pada laki-laki.

Dalam penelitian berjudul The Effect of Fasting on Erectile Function and Sexual Desire on Men in The Month of Ramadan, disebutkan bahwa puasa yang dilakukan secara rutin selama Ramadan berhubungan dengan perubahan hormon reproduksi.

“Puasa Ramadan yang dilakukan dari hari ke hari secara rutin berhubungan dengan turunnya nafsu seksual, berkurangnya frekuensi hubungan badan, dan turunnya hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) pada laki-laki,” tulis Talib dan timnya.

FSH merupakan hormon yang berperan penting dalam proses produksi sperma.

Ketika kadar hormon tersebut menurun, produksi sperma juga dapat berkurang sehingga dorongan seksual secara alami ikut menurun.

Penelitian lain yang dikutip dalam kajian tersebut juga menyebutkan bahwa rendahnya kadar hormon FSH dapat memengaruhi energi tubuh, kesuburan, serta libido pada laki-laki.

Nutrisi Setelah Berbuka Dapat Meningkatkan Energi Tubuh

Meski demikian, tubuh laki-laki tetap memproduksi sperma secara berkala.

Proses tersebut sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi saat berbuka puasa.

Apabila asupan nutrisi terserap dengan baik, produksi sperma dapat meningkat.

Pada kondisi tertentu, peningkatan produksi ini juga dapat memicu dorongan seksual yang lebih kuat.

Dalam situasi tersebut, hubungan suami istri menjadi salah satu cara yang wajar untuk menyalurkan dorongan biologis dalam kehidupan rumah tangga yang sah.

Hubungan Intim Juga Memiliki Manfaat Psikologis

Selain aspek biologis, hubungan intim juga memiliki dimensi psikologis dalam kehidupan pasangan suami istri.

Aktivitas tersebut dapat menjadi sarana rekreasi emosional yang membantu menjaga kedekatan dan keharmonisan rumah tangga.

Ketika dilakukan secara wajar dan tanpa tekanan, hubungan suami istri dapat memberikan rasa bahagia, mengurangi stres, serta memperkuat ikatan emosional antara pasangan.

Sejumlah kajian juga menyebutkan bahwa aktivitas seksual yang dilakukan dengan kondisi tubuh yang cukup energi dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dan keseimbangan emosional.

Waktu Hubungan Intim Tetap Menjadi Kesepakatan Pasangan

Pada akhirnya, pemilihan waktu hubungan intim selama Ramadan menjadi keputusan bersama antara suami dan istri.

Setiap pasangan memiliki kondisi tubuh, pola ibadah, serta rutinitas yang berbeda selama bulan puasa.

Sebagian pasangan memilih melakukannya setelah berbuka dan sebelum salat tarawih, sementara yang lain lebih nyaman setelah rangkaian ibadah malam selesai atau menjelang sahur.

Yang terpenting, hubungan tersebut dilakukan pada waktu yang diperbolehkan, mempertimbangkan kondisi fisik, serta tidak mengganggu ibadah utama selama Ramadan.

Dengan pengaturan waktu yang tepat, pasangan suami istri tetap dapat menjaga keharmonisan rumah tangga tanpa mengurangi nilai ibadah yang dijalankan selama bulan suci Ramadan. (RAM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *