Krisis Energi Global, Apa Strategi Pemerintah RI?

Foto Ilustrasi: Krisis Energi Global. (JakartaVibes)

Pembangunan infrastruktur ini merupakan bagian dari program hilirisasi serta penguatan pondasi energi nasional.

Sebagai strategi jangka panjang, pemerintah terus mempercepat transisi energi menuju Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Fokus utama pengembangan sumber energi bersih mencakup optimalisasi panas bumi, tenaga surya, hingga tenaga bayu.

Program biodiesel juga akan ditingkatkan skalanya dari program B40 menjadi B50 secara bertahap.

Program konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terus dijalankan di wilayah 3T.

Pemerintah juga melakukan pengkajian penggunaan kompor listrik dan pengembangan dimetil eter (DME) sebagai substitusi LPG.

Seluruh langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan nasional terhadap penggunaan energi fosil hasil impor.

Hangga menegaskan bahwa transisi energi merupakan komitmen nasional sejak Paris Agreement dan pengesahan UU No 16 Tahun 2016.

Target net zero emission pada tahun 2060 serta PP KEN No 40 Tahun 2025 menjadi landasan kuat bagi arah kebijakan ini.

Jangan Panic Buying

Menanggapi kekhawatiran publik, pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aksi panic buying atau pembelian berlebihan.

Pembelian BBM dan LPG yang melampaui kebutuhan dapat memicu kelangkaan buatan serta ketidakstabilan harga di pasar.

Satya Hangga Yudha Widya Putra menegaskan bahwa stok BBM dan LPG aman, harga tetap stabil, dan pemerintah memantau kondisi lapangan setiap hari.

“Stok BBM dan LPG aman, harga tetap stabil, dan pemerintah terus memantau kondisi di lapangan setiap hari,” ujar Hangga.

Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai skenario mitigasi untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari dinamika global.

Halaman: 1 2 3 4 5

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *