Saat ini Indonesia memiliki angka lifting minyak sekitar 600 ribu barel per hari, sedangkan tingkat konsumsi mencapai 1,6 juta barel.
Kesenjangan angka tersebut menunjukkan ketergantungan pada impor, namun stok BBM nasional tetap dipastikan terkendali.
Pemerintah terus menjamin ketersediaan pasokan melalui operasional kilang domestik yang diupayakan tetap optimal.
Indonesia juga memperluas sumber impor energi dari berbagai kawasan seperti Amerika Serikat, Amerika Latin, Afrika, hingga Australia.
Satya Hangga Yudha Widya Putra memaparkan bahwa ketahanan stok BBM selama 27 hingga 28 hari bukanlah cadangan yang bersifat statis.
Proses produksi dan impor yang terus berjalan membuat pasokan tetap terjaga meskipun harga global mengalami kenaikan signifikan akibat situasi geopolitik.
Kebijakan WFH dan WFA
Dalam menghadapi potensi krisis energi, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk jangka pendek.
Kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari per minggu diperkirakan mampu menghemat konsumsi BBM hingga 20 persen.
Langkah ini diambil dengan tujuan utama untuk mengurangi mobilitas masyarakat serta penggunaan kendaraan pribadi.
Selain WFH, kebijakan work from anywhere (WFA) juga didorong sebagai upaya efisiensi penggunaan energi nasional.
Pemerintah turut menggalakkan penggunaan transportasi umum serta kendaraan listrik sebagai solusi transportasi yang lebih efisien.
Upaya penghematan energi di tingkat masyarakat menjadi bagian integral dari strategi pengendalian konsumsi energi secara nasional.
Untuk jangka menengah, pemerintah memperkuat ketahanan energi melalui pembangunan fasilitas penyimpanan atau storage minyak.
Sesuai dengan Keppres No 1 Tahun 2025, fasilitas penyimpanan tersebut akan dibangun di wilayah Sumatera.









