JakartaVibes.com, Jakarta – Asia menjadi kawasan pertama menghadapi krisis energi global, dampak konflik Iran-Israel.
Krisis energi dunia saat ini terus meluas sejak Selat Hormuz, Iran, yang menjadi jalur distribusi global ditutup.
Sehingga, memicu lonjakan harga energi global yang berdampak tidak hanya pada Bahan Bakar Minyak (BBM).
Namun juga merembet ke inflasi, biaya produksi hingga aktivitas sosial masyarakat, terutama di kawasan Asia.
Baca Juga: Pemprov DKI Ajak Warga Jaga Kebersihan Taman Bendera Pusaka, Fasilitas Ditambah
Negara-negara Asia diketahui masih ketergantungan pada impor minyak, minimnya cadangan energi, hingga terbatasnya diversifikasi sumber.
Sehingga, membuat banyak negara Asia berada di posisi yang paling rentan dan menghadapi krisis tersebut.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Pemerintah Indonesia pun merespons dan kini tengah sibuk membuat kebijakan-kebijakan untuk menghadapi krisis tersebut.
Stimulus Baru Hadapi Krisis Energi
Pemerintah menggelar rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga (K/L) untuk membahas rencana penyesuaian kebijakan energi serta langkah strategis di bidang ekonomi nasional.
Rapat tersebut dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan berlangsung secara virtual pada Selasa (24/3/2026).
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya turut menghadiri rapat bersama sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara lainnya.
Sejumlah menteri yang hadir dalam rapat tersebut antara lain Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani.
Turut hadir pula Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto.









