Trump Ancam Hancurkan Rezim Iran: Kami Tak Tertandingi

Foto: Presiden AS Donald J Trump. (Istimewa)

JakartaVibes.com, Jakarta – Ketegangan perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel terus meningkat.

Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras dengan mengancam akan menghancurkan rezim Iran secara menyeluruh.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui platform media sosial Truth Social, Trump menyebut pemerintah Iran sebagai rezim teroris yang harus dihancurkan.

“Kami akan menghancurkan sepenuhnya rezim teroris Iran, secara militer, ekonomi, dan dengan cara lain,” tulis Trump.

Baca Juga: Trump Klaim AS Luncurkan Serangan ke Pulau Kharg Iran: Dahsyat!

Ia mengklaim bahwa kekuatan militer Iran telah mengalami kerusakan besar akibat serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya.

Menurut Trump, angkatan laut Iran sudah tidak lagi berfungsi, sementara angkatan udara negara tersebut juga disebut telah lumpuh.

Trump juga menyatakan bahwa berbagai sistem persenjataan Iran seperti rudal dan drone akan dihancurkan.

Retorika Trump Semakin Keras

Dalam pernyataan yang bernada sangat keras, Trump bahkan menyebut sejumlah pemimpin Iran telah “dihapus dari muka bumi”.

Ia juga menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki kekuatan militer yang sangat besar untuk melanjutkan perang tersebut.

“Kami memiliki kekuatan tembak yang tak tertandingi, amunisi tak terbatas, dan banyak waktu,” ujarnya.

Trump bahkan menyebut para pemimpin Iran dengan istilah kasar dan mengatakan bahwa merupakan “kehormatan besar” baginya untuk membunuh mereka.

Sebelumnya, Trump beberapa kali menyatakan bahwa konflik dengan Iran bisa segera berakhir.

Namun hingga kini serangan balasan dari Iran dan kelompok milisi sekutunya masih terus berlangsung di berbagai wilayah Timur Tengah.

Serangan Rudal Hantam Israel

Serangan terbaru Iran dilaporkan terjadi pada Jumat dini hari ketika rudal menghantam wilayah utara Israel.

Menurut layanan penyelamat Magen David Adom, puluhan orang terluka dalam serangan di kota Sarsir yang berada dekat Nazareth.

Beberapa rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat ledakan tersebut.

Serangan Meluas ke Negara Teluk

Konflik tersebut juga mulai berdampak pada negara-negara Teluk di kawasan Timur Tengah.

Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat sejumlah drone yang diduga diluncurkan dari pihak yang terkait dengan Iran.

Sementara di Oman, dua orang dilaporkan tewas setelah sebuah drone jatuh di wilayah tersebut.

Di Dubai, Uni Emirat Arab, puing-puing dari proyektil yang berhasil ditembak jatuh menghantam sebuah bangunan yang berada dekat pusat keuangan kota tersebut.

Tentara Prancis Tewas di Irak

Serangan lain juga terjadi di wilayah Kurdi Erbil di Irak utara.

Dalam insiden tersebut seorang tentara Prancis dilaporkan tewas.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras serangan tersebut.

“Serangan ini tidak dapat diterima. Perang di Iran tidak bisa dijadikan pembenaran atas serangan seperti ini,” ujar Macron.

Di sisi lain, militer AS juga kehilangan sebuah pesawat tanker di wilayah Irak yang menewaskan empat awak pesawat.

Komando militer AS menyatakan insiden tersebut bukan akibat tembakan musuh maupun sekutu.

Namun sebuah milisi yang didukung Iran mengklaim mereka telah menembak jatuh pesawat tersebut.

Israel Luncurkan Serangan Baru ke Teheran

Sementara itu, militer Israel melancarkan gelombang serangan baru ke ibu kota Iran, Teheran.

Militer Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan berbagai infrastruktur milik pemerintah Iran yang disebut sebagai bagian dari rezim teroris.

Selain menyerang Iran, Israel juga kembali melancarkan serangan ke Lebanon untuk melemahkan kelompok milisi Hizbullah.

Salah satu target serangan adalah Jembatan Srarieh yang berada di atas Sungai Litani.

Ketegangan Selat Hormuz

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan seluruh sumber daya militer Amerika kini difokuskan untuk menghancurkan kemampuan ofensif Iran, termasuk terkait blokade di Selat Hormuz.

Ia mengakui bahwa saat ini Amerika Serikat belum sepenuhnya mampu mengawal kapal tanker yang melintas di selat strategis tersebut.

Namun menurutnya, Angkatan Laut AS diperkirakan akan segera memiliki kemampuan untuk melakukan pengawalan tersebut.

AS Longgarkan Sanksi Minyak Rusia

Di tengah meningkatnya konflik dan melonjaknya harga minyak yang mendekati 100 dolar per barel, pemerintahan Trump juga mengambil langkah kontroversial dengan melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia.

Washington memberikan izin sementara untuk pembelian minyak Rusia hingga 11 April 2026.

Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu Rusia meningkatkan pendapatan dari ekspor minyaknya di tengah perang yang masih berlangsung dengan Ukraina.

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik keputusan tersebut.

“Melonggarkan sanksi sekarang, apa pun alasannya, menurut kami adalah langkah yang salah,” kata Merz saat berkunjung ke Norwegia.

Sementara itu, utusan Kremlin Kirill Dmitriev menyatakan kebijakan tersebut menunjukkan pengakuan bahwa pasar energi global sulit stabil tanpa pasokan minyak Rusia.

“AS pada dasarnya mengakui hal yang jelas bahwa tanpa minyak Rusia, pasar energi global tidak dapat tetap stabil,” tulis Dmitriev di Telegram. (RAM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *