JakartaVibes.com, Jakarta – Republik Islam Iran memasuki babak baru transisi kekuasaan pasca-berpulangnya Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.
Ulama senior, Ayatollah Alireza Arafi, secara resmi ditunjuk untuk memimpin Dewan Kepemimpinan Sementara yang akan menjalankan roda pemerintahan selama masa transisi.
Mengutip laporan kantor berita ISNA melalui CBS, Minggu (1/3/2026), Arafi tidak bekerja sendiri.
Ia akan memimpin dewan tersebut bersama Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan Kepala Kehakiman, Gholamhossein Mohseni Ejei.
Baca Juga: Kondisi Agnez Mo Ketika Dubai Terdampak Perang
“Dewan Penilaian Kepentingan Nasional telah memilih Ayatollah Alireza Arafi sebagai anggota sekaligus pemimpin dewan sementara,” ujar juru bicara dewan, Mohsen Dehnavi, melalui pernyataan resmi di platform X.
Mekanisme Transisi dan Peran Majelis Ahli
Berdasarkan konstitusi Iran, Dewan Kepemimpinan Sementara memiliki mandat untuk menjaga stabilitas negara hingga Majelis Ahli (Assembly of Experts) memilih penerus permanen Khamenei.
Penunjukan Arafi (67) dianggap strategis karena kedudukannya yang krusial di struktur elite Iran.
Sebagai anggota Dewan Pengawas (Guardian Council), Arafi memiliki kewenangan besar dalam menyaring kandidat pemimpin masa depan.
Transisi ini merupakan kali kedua sejak Revolusi Islam 1979 dan menjadi ujian berat bagi kohesi politik internal Iran di tengah tensi geopolitik Timur Tengah.
Profil Ayatollah Alireza Arafi: Sang Mujtahid dari Meybod
Lahir pada tahun 1959 di Meybod, Provinsi Yazd, Alireza Arafi tumbuh dalam ekosistem ulama yang kental. Melansir First Post, berikut adalah rekam jejak kariernya:
- Pendidikan Teologi: Menempuh pendidikan di Qom dan meraih gelar Mujtahid, otoritas tertinggi yang mengizinkannya mengeluarkan fatwa secara independen.
- Kepercayaan Khamenei: Kariernya melesat di bawah perlindungan Ali Khamenei. Ia pernah menjabat sebagai imam salat Jumat di Meybod dan Qom.
- Akademisi Internasional: Menjabat sebagai Ketua Universitas Internasional Al-Mustafa, lembaga pelatihan ulama lintas negara.
- Elite Politik: Pada 2019, ia diangkat menjadi anggota Dewan Penjaga, posisi kunci yang bertugas mengawasi undang-undang dan kelayakan calon dalam pemilu.
Visi Politik dan Tantangan Kepemimpinan
Arafi dikenal sebagai sosok yang menekankan pentingnya peran seminari dalam politik praktis.
Dalam salah satu pernyataannya, ia menegaskan bahwa lembaga keagamaan harus bersolidaritas dengan kaum tertindas dan berwawasan internasional.
“Seminari harus berasal dari rakyat, bersifat politis, revolusioner, dan berwawasan internasional,” tegas Arafi.
Namun, para analis politik internasional mencatat adanya tantangan besar.
Meski memiliki kredibilitas tinggi di kalangan elite ulama, Arafi dinilai kurang memiliki basis politik independen di akar rumput.
Hal ini diprediksi akan memengaruhi manuver politiknya saat berhadapan dengan faksi garis keras maupun pragmatis dalam perebutan kursi Pemimpin Tertinggi yang permanen. (RAM)









